Pernikahan dalam ajaran agama selalu ditempatkan sebagai ibadah. Ia bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan komitmen moral, spiritual, dan sosial yang sakral. Namun belakangan muncul fenomena yang terasa nyeleneh menikah dengan narasi “untuk ibadah”, tetapi pada praktiknya justru dipenuhi tuntutan berlebihan yang cenderung manipulatif.
Spiritual Gaslighting: Ketika Dalil Jadi Alat Tekan
Salah satu bentuk paling halus namun berbahaya adalah manipulasi narasi agama spiritual gaslighting. Dalil dipakai bukan untuk membimbing, melainkan untuk menekan. Kalimat seperti, “Istri harus patuh mutlak,” atau “Suami wajib menanggung semuanya tanpa batas,” sering dikutip tanpa konteks keadilan dan kemampuan.
Ketika pasangan mencoba berdialog atau mengutarakan keberatan, respons yang muncul justru tuduhan: kurang iman, tidak taat, atau melawan ajaran agama. Di titik ini, agama tidak lagi menjadi cahaya penuntun, melainkan alat legitimasi dominasi.
Transaksional vs. Transenden
Ibadah seharusnya bersifat transenden menenangkan, menumbuhkan, dan mendewasakan jiwa. Namun ketika pernikahan berubah menjadi kalkulasi untung-rugi, relasi pun menjadi transaksional. Pasangan tidak lagi dipandang sebagai mitra seimbang, melainkan sebagai “aset” atau “sumber daya”.
Hubungan yang dibangun di atas logika transaksi akan melahirkan kecemasan permanen. Ada daftar tuntutan, ada target yang harus dipenuhi, ada standar sepihak yang tak pernah selesai. Di sinilah komitmen berubah menjadi kalkulasi.
Hilangnya Empati dan Ruh Rahmah
Esensi ibadah dalam pernikahan adalah kasih sayang (rahmah). Empati adalah fondasinya. Namun ketika tuntutan lebih dominan daripada pengertian, empati perlahan hilang.
Pertanyaan yang seharusnya muncul adalah, “Apakah kamu sanggup?” atau “Bagaimana kita menyelesaikan ini bersama?” Tetapi yang sering terdengar justru, “Kenapa kamu tidak bisa memenuhi?” Di situ, relasi berubah dari kerja sama menjadi tekanan sepihak.
Perspektif Kewajiban Suami Istri
Sebagaimana disampaikan oleh ustadz Khalid Basalamah, suami dan istri adalah mitra dalam ibadah yang bertujuan membangun rumah tangga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Suami berkewajiban melakukan mu’asyarah bil ma’ruf (bergaul secara baik), memberikan nafkah sesuai kemampuan, membimbing agama, serta memenuhi hak biologis istri.
Sementara itu, istri berkewajiban taat selama tidak dalam perintah maksiat, menjaga kehormatan, mengelola rumah tangga, dan menjaga amanah ketika suami tidak ada.
Prinsip dasarnya adalah keseimbangan hak dan kewajiban. Ketika suami memenuhi hak istri dan istri menjalankan kewajibannya dengan ikhlas, rumah tangga diharapkan menjadi “taman surga”.
Minimnya Edukasi Pra-Nikah
Fenomena ini juga dipicu oleh kurangnya edukasi pra-nikah yang jujur dan realistis. Banyak pasangan masuk ke jenjang pernikahan hanya dengan modal romantisme dan narasi normatif: “Nanti juga saling menyesuaikan,” atau “Cinta akan menyelesaikan semuanya.”
Padahal isu nilai hidup, pengelolaan keuangan, batasan pribadi (boundary), ekspektasi peran, hingga visi jangka panjang jarang dibicarakan secara terbuka. Ketika realitas datang, benturan tak terhindarkan. Dan dalih agama sering kali dijadikan jalan pintas untuk memenangkan argumen.
Ibadah atau Eksploitasi?
Mengatasnamakan ibadah untuk membenarkan sikap oportunistik bukan hanya mencederai pasangan, tetapi juga merusak marwah nilai agama itu sendiri. Jika agama dijadikan tameng untuk menekan, maka yang terjadi bukanlah ibadah, melainkan eksploitasi relasional.
Narasi agama seharusnya membebaskan dan memuliakan, bukan mengekang dan menindas. Pernikahan adalah kerja sama jangka panjang yang dibangun di atas kejujuran, kesetaraan, tanggung jawab, dan empati.
Sudah saatnya publik lebih kritis. Ibadah bukan sekadar label, melainkan proses yang tercermin dalam sikap sehari-hari. Jika sejak awal niatnya tulus, maka yang lahir adalah kemitraan yang saling menguatkan bukan daftar tuntutan yang tak berujung.
Karena pada akhirnya, ibadah yang sejati tidak pernah menjadikan pasangan sebagai objek tekanan, melainkan sebagai amanah untuk dimuliakan.**
Ali/BS
Apresiasi Spesial
Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.
Scan QRIS Berita Super
Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.

