INDRAMAYU — Menjelang Kabupaten Indramayu memasuki usia 500 tahun, peringatan Hari Jadi ke-499 tahun 2026 justru menuai gelombang sorotan dan kekecewaan dari masyarakat. Senin, (5/10).

Alih-alih semarak menyambut perjalanan daerah, rangkaian kegiatan dinilai kurang meriah, minim kehadiran pimpinan daerah, dan terasa jauh dari kehidupan warga.

Kritik bermula dari prosesi sakral Jamasan Pusaka yang digelar di Pendopo Kabupaten Indramayu, Jumat (2/10/2026). Kegiatan yang menjadi jantung pelestarian budaya dan sejarah leluhur ini justru Bupati Indramayu Lucky Hakim absen.

Prosesi berjalan khidmat pusaka dibawa dari Pancaniti ke Pendopo, dilanjut Kidung Rahayu, doa bersama, penyerahan pusaka secara berantai, hingga pembersihan oleh juru pelihara. Namun ketiadaan pimpinan tertinggi daerah di momen bernilai sejarah ini menjadi catatan bagi banyak pihak.

Kekecewaan kembali muncul saat ziarah ke makam pendiri daerah, Raden Bagus Aria Wiralodra, di Kecamatan Sindang. Di momen penghormatan tertinggi kepada pendiri Indramayu, hanya Wakil Bupati Syaefudin yang tampak hadir.

Belum selesai di situ, warganet juga menilai suasana perayaan tahun ini jauh dari semarak. Karnaval Tjimanoek  yang selama ini menjadi jantung kemeriahan dan ditunggu seluruh lapisan masyarakat tak digelar.

“Hari jadi Indramayu sekarang kurang sempurna, tidak ada Karnaval Tjimanoek,” ungkap seorang warganet.

Kritik paling tajam sekaligus menyentil muncul dari warganet lain yang membandingkan dengan hal sederhana sehari-hari.

“Ulang tahun anak-anak saja minimal ada balon, pita, kertas warna-warni. Level kabupaten masa seperti ini?”. tegasnya.

Ketua Forum Peduli Indramayu (FPI), Masdi, pun tak tinggal diam. Ia menilai sangat miris peringatan ke-499 ini menjadi momentum yang mengecewakan.

Bahkan ia menyebut Bupati Lucky Hakim bersikap “Sekarepe Dewek” semaunya sendiri yang terasa ironis di tengah slogan daerah “REANG“.

Tak hanya itu, muncul pula informasi mengenai dugaan penggunaan perangkat daerah untuk menyebarkan proposal kegiatan jalan sehat dan senam dalam rangkaian hari jadi, yang dinilai membebani aparat maupun masyarakat.

Mereka mendambakan perayaan yang terasa di jalanan, di rumah-rumah warga, budaya yang hidup, dan kehadiran pemerintah yang nyata bukan sekadar nama di undangan.**


Apresiasi Spesial

Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.

5rb
20rb
50rb
×

Scan QRIS Berita Super

Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.

Share.
Pesan Website & Aplikasi
Exit mobile version