INDRAMAYU — Sejumlah organisasi mahasiswa asal Indramayu yang tersebar di berbagai daerah menggelar konsolidasi pada Jumat, 31 Januari 2026.
Kegiatan tersebut membahas persoalan banjir yang terus berulang di Kabupaten Indramayu, dengan perhatian khusus pada banjir rob di kawasan pesisir yang dinilai semakin berdampak pada kehidupan warga.
Konsolidasi ini diikuti oleh Ikatan Keluarga Mahasiswa Indramayu (IKMI) Cirebon, Ikatan Keluarga Mahasiswa Indramayu (IKA Darma Ayu) Bandung, Persatuan Mahasiswa Indramayu (Permai Ayu) Jakarta, Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Indramayu D.I. Yogyakarta (KAPMI), Forum Mahasiswa Indramayu (Formasi) Purwokerto, Ikatan Mahasiswa Indramayu Semarang (IKAHASI), Himpunan Keluarga Mahasiswa Indramayu (HIKMI) Sumedang, Ikatan Keluarga Wiralodra Dharma Ayu (IKA Wira Dharma) Malang, serta Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut Agama Islam Pangeran Dharma Kusuma (DEMA IAI PDK) Kampus Putih Indramayu.
Sorotan Kondisi Pesisir Indramayu
Dalam konsolidasi tersebut, mahasiswa menilai banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Indramayu baik akibat luapan sungai, banjir kiriman, maupun rob menjadi indikator lemahnya pengelolaan lingkungan dan tata ruang wilayah.
Kawasan pesisir seperti Desa Eretan Wetan, Eretan Kulon, Kertawinangun, dan Parean Ilir disebut sebagai wilayah yang paling sering terdampak.
Di daerah tersebut, air laut pasang dilaporkan kerap menggenangi permukiman warga, fasilitas umum, sarana pendidikan, hingga tempat ibadah.
Ketua IKAHASI Semarang, Adam, menyampaikan bahwa banjir yang terjadi secara berulang tidak dapat dilihat semata sebagai fenomena alam.
“Banjir yang terus berulang di berbagai wilayah Indramayu merupakan persoalan serius dalam perencanaan wilayah,” ujar Adam.
Ketua Formasi Purwokerto, Syahdan, menekankan bahwa banjir rob di kawasan pesisir telah berkembang menjadi masalah yang bersifat kronis.
“Di Eretan, banjir bukan lagi kejadian musiman. Air laut masuk ke rumah warga hampir setiap hari, merusak bangunan dan mengancam kesehatan masyarakat. Sebagai diaspora Indramayu yang menempuh pendidikan di luar daerah, kami merasa memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi bagi Bumi Segandu,” katanya.
Sementara itu, Ketua Permai Ayu Jakarta, Miftah Jabalut Thoriq, menyatakan konsolidasi tersebut merupakan bagian dari komitmen jangka panjang mahasiswa untuk mengawal isu-isu kebencanaan di Indramayu.
“Kami mendorong pemerintah daerah agar tidak menormalisasi banjir sebagai rutinitas atau semata faktor alam. Kami akan terus mengawal isu ini bersama organisasi daerah lainnya dengan cara dan upaya yang kami miliki,” ujarnya.
Melalui konsolidasi tersebut, para mahasiswa berharap persoalan banjir dan rob pesisir di Indramayu dapat memperoleh perhatian serius dari seluruh pemangku kebijakan serta ditangani secara menyeluruh, adil, dan berkelanjutan demi kepentingan masyarakat luas. (*)
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Berita Super.
Metode Pembayaran Aman

