INDRAMAYU — Kesabaran warga Indramayu kian menipis. Gangguan layanan air bersih Perumdam Tirta Darma Ayu yang kembali terjadi akibat kekeruhan Sungai Cimanuk memicu gelombang kemarahan di media sosial.
Bukan hanya air keruh, sejumlah pelanggan mengaku aliran air benar-benar mati tanpa peringatan. Ironisnya, imbauan untuk menampung air justru muncul setelah warga lebih dulu mengalami krisis air di rumah mereka.
“Airnya tidak keluar sama sekali, lalu kami harus menampung apa?” keluh seorang warga.
Kemarahan publik bukan tanpa alasan. Warga menilai persoalan ini sebagai “lagu lama” yang terus berulang tanpa solusi nyata. Tahun berganti, keluhan tetap sam air keruh, tekanan turun, hingga distribusi terhenti.
“Sudah 2026, tapi masalahnya masih itu-itu saja. Sebenarnya ada solusi atau tidak?” tulis warganet lainnya.
Sorotan tajam juga mengarah pada ketimpangan pelayanan. Saat pelanggan terlambat membayar, denda diberlakukan tanpa kompromi. Namun ketika layanan lumpuh, kompensasi justru tak pernah diberikan.
“Kalau telat bayar kena denda, giliran air mati kami yang harus maklum. Ini adil?” tulis pelanggan dengan nada geram.
Di tengah kondisi tersebut, pernyataan Bupati Indramayu Lucky Hakim justru kembali disorot publik. Dalam penandatanganan kontrak kinerja direksi Perumdam, ia menegaskan bahwa komitmen pelayanan bukan sekadar formalitas.
“Melalui proses seleksi yang terbuka, transparan, dan akuntabel, hari ini kita sampai pada tahap penting, yaitu penandatanganan kontrak kinerja dan surat pernyataan. Ini bukan sekadar formalitas, tetapi wujud komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar Lucky.
Namun di lapangan, kondisi yang dirasakan warga dinilai jauh dari harapan tersebut.
Sementara itu, pihak direksi Perumdam sendiri sebelumnya menyatakan komitmennya untuk meningkatkan kinerja hingga masa jabatan 2027. Bahkan, dalam fakta integritas yang telah ditandatangani, mereka mengaku tertantang untuk bekerja lebih keras.
“Dalam fakta integritas yang telah saya tandatangani, saya tertantang untuk bekerja keras untuk memajukan perusahaan yang saya pimpin,” ujarnya.
Sayangnya, di mata pelanggan, komitmen itu belum sepenuhnya terasa. Air keruh, distribusi terhenti, hingga minimnya respons cepat dinilai menjadi bukti bahwa persoalan mendasar belum terselesaikan.
Sejumlah warga mulai mempertimbangkan beralih ke sumber air mandiri, seperti sumur bor atau pompa air, sebagai bentuk kekecewaan terhadap layanan yang dinilai tak kunjung membaik.
Hingga kini, belum ada penjelasan rinci dari pihak Perumdam terkait langkah konkret penanganan maupun kepastian pemulihan layanan. (*)
Apresiasi Spesial
Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.
Scan QRIS Berita Super
Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.

