INDRAMAYU – Seorang dokter perempuan di Indramayu, Jawa Barat, menjadi korban kekerasan dan intimidasi yang diduga melibatkan Kuwu (Kepala Desa) Anjatan. Kisah pilu ini viral di media sosial, di mana sang dokter menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya.
Kronologi Kejadian
Peristiwa bermula saat dokter tersebut dalam perjalanan pulang dari tempat praktiknya di RS Mitra Plumbon Patrol menuju rumahnya di Anjatan. Sekitar 500 meter sebelum sampai rumah, ia terhenti oleh iring-iringan kendaraan.
“Saya berhenti karena ada dua mobil di depan saya. Saat diberi isyarat jalan, tiba-tiba seorang pria berkaus putih menghampiri,” tulisnya dalam unggahan viral tersebut.
Pria tersebut awalnya bertanya arah tujuan dengan sopan. Namun, tak lama kemudian, seorang pria berkacamata hitam muncul dan bersikap agresif. Pria berkacamata itu memerintahkan dokter untuk memutar arah dan berteriak dengan nada tinggi.
Ketegangan meningkat saat pria berkacamata itu menghantam bagian depan mobil dan memecahkan spion. “Dia hampir memukul saya sambil mengucapkan kata-kata kasar,” lanjutnya.
Sesampainya di rumah, sejumlah pria berbaju putih diduga mengikuti dokter hingga ke garasi rumahnya. Ia sempat melawan dan meminta mereka keluar.
“Semua laki-laki berbadan besar itu saya dorong keluar dan saya banting pintu garasi. Ini rumah saya!” tegasnya.
Pengeroyokan Terhadap Suami dan Karyawan
Situasi semakin memanas ketika suami dokter, yang juga seorang dokter, tiba di lokasi. Diduga, ia dan dua karyawannya menjadi korban pengeroyokan. Sang istri dan anak-anak menyaksikan kejadian itu dari balkon rumah.
“Suami saya dipukuli seperti seorang pencuri. Di mana hati nurani kalian, orang Anjatan, Indramayu?” tulisnya dengan nada kecewa.
Belakangan, dokter tersebut mengetahui bahwa pria berkacamata hitam yang menyerangnya adalah Kuwu Anjatan. “Saya baru tahu setelah semua kejadian itu selesai,” ungkapnya.
Reaksi Publik dan Tindakan Hukum
Kasus ini telah menarik perhatian publik. Warganet mengecam tindakan kekerasan tersebut dan mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pemerintah desa terkait dugaan keterlibatan oknum kepala desa.
Peristiwa ini meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga dokter tersebut. “Dengan tangan bergetar dan emosi yang belum reda, saya hanya ingin keadilan,” tutupnya. **(Ali)
Apresiasi Spesial
Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.
Scan QRIS Berita Super
Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.
