Indramayu – Di sebuah lorong gang kecil di kawasan Bojongsari, Kabupaten Indramayu, suara gunting yang beradu pelan dengan sisir terdengar nyaris tanpa henti. Sebuah kursi cukur sederhana berdiri di ruangan sempit yang jauh dari kesan mewah.

Namun dari tempat kecil itulah, Sukardi (56) menjalani pengabdian hidup yang sudah bertahan selama 23 tahun.

Pangkas Rambut BSI miliknya bukan sekadar tempat mencukur rambut. Bagi sebagian warga, terutama anak-anak sekolah dan keluarga kecil dengan penghasilan terbatas, tempat itu menjadi ruang pelayanan murah yang tetap menjaga kualitas dan rasa kemanusiaan.

“Ya 23 tahun berjalan, 23 perjalanan,” ujar Sukardi sambil tersenyum tipis.

Setiap hari, pria paruh baya itu melayani sekitar 20 hingga 25 pelanggan. Mulai dari anak-anak SD, pelajar SMA, hingga orang tua datang silih berganti. Di tengah harga kebutuhan hidup yang terus naik, Sukardi memilih tetap mempertahankan tarif cukur yang nyaris sulit dipercaya.

“Kalau anak kecil tuh SD sampai SMA yang masih sekolah, saya nggak naikkan. Dari awal buka tetap Rp3.000,” katanya.

Sementara untuk pelanggan dewasa, tarif yang dipatok hanya sekitar Rp4.000 hingga Rp5.000. Bahkan tak jarang ia mengembalikan sebagian uang pelanggan yang dianggap memberi terlalu banyak.

“Ada ngasih Rp5.000, kita kasih kembalian Rp1.000. Nggak usah segitu,” tuturnya.

Di tengah dunia usaha yang identik dengan keuntungan, Sukardi justru menempatkan empati sebagai bagian dari pekerjaannya. Anak yatim yang datang ke tempatnya sering kali dibebaskan dari biaya cukur.

“Kalau ada anak yatim, saya bilang buat jajan aja. Saya tuh suka sedih lihatnya,” ucapnya lirih.

Kesederhanaan itu terasa nyata dari kondisi tempat usaha yang jauh dari kata modern. Kursi tua, ruang sempit, dan perlengkapan seadanya menjadi saksi perjalanan panjang seorang tukang cukur yang bertahan dengan kemandirian.

Selama puluhan tahun membuka usaha, Sukardi mengaku belum pernah menerima bantuan pemerintah. Semua dijalani sendiri dari hasil kerja hariannya.

“Belum pernah dapat bantuan. Selama ini mandiri, dari hasil usaha,” katanya.

Namun di balik keterbatasan itu, Sukardi tetap memiliki harapan sederhana. Ia ingin tempat pangkas rambutnya suatu hari menjadi lebih nyaman untuk pelanggan.

“Pengen tempatnya lebih bagus lagi. Kursi atau situasinya lebih enak buat yang potong rambut di sini,” ujarnya.

Kisah Sukardi menjadi gambaran kecil tentang wajah ketahanan ekonomi rakyat bawah di Indramayu. Di saat banyak usaha kecil berguguran menghadapi tekanan ekonomi, ia memilih bertahan dengan prinsip membantu sesama.

Bukan soal besar kecilnya keuntungan, melainkan bagaimana sebuah usaha bisa tetap menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Di tangan Sukardi, gunting bukan hanya alat mencari nafkah. Ia berubah menjadi simbol kepedulian, kesederhanaan, dan pengabdian yang tumbuh diam-diam dari sebuah gang kecil di Bojongsari. **


Apresiasi Spesial

Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.

5rb
20rb
50rb
×

Scan QRIS Berita Super

Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.

Share.
Pesan Website & Aplikasi
Exit mobile version