Indramayu — Fenomena turunnya minat lulusan SMA/SMK untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi kembali mencuat di Indramayu. Banyak orang tua dan siswa kini lebih memilih jalur Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) karena dianggap menawarkan peluang kerja lebih cepat, termasuk program penempatan ke luar negeri.

Hal ini diakui langsung oleh Ketua Umum Yayasan Wiralodra Indramayu sekaligus Pakar Ilmu Hukum Pidana, Dr. H. Dudung Indra Ariska, S.H., M.H. dalam wawancara dengan beritasuper.com. di Kampus Universitas Wiralodra. Selasa (18/11).

Menurutnya, kondisi ekonomi menjadi pendorong utama mengapa lulusan baru enggan kuliah.

“Melihat kondisi ekonomi masyarakat di Indramayu, itu hal yang lumrah. Banyak lulusan SMA yang ketika menyandang ijazah pun masih kesulitan mencari pekerjaan,” ujarnya.

Ia bahkan menilai perguruan tinggi, termasuk UNWIR, masih belum mampu memberikan jaminan yang cukup kuat terkait masa depan lulusan.

“Universitas saat ini belum bisa menawarkan apa-apa. Sementara LPK lebih praktis dan menawarkan peluang kerja, termasuk keberangkatan ke luar negeri,” tegasnya.

UNWIR sejatinya telah menyediakan beragam program bantuan pendidikan. Salah satunya Program Indonesia Pintar (PIP) dengan kuota lebih dari 300 mahasiswa.

Namun, rendahnya minat calon mahasiswa membuat sebagian kuota harus dikembalikan.

“Sebagian kuota PIP harus kami kembalikan karena kurang pendaftar. Fasilitas sudah ada, tapi minat masih rendah,” kata H. Dudung.

Ia menegaskan bahwa masyarakat sering kali mengira kuliah pasti membutuhkan biaya besar, padahal UNWIR menyediakan berbagai skema bantuan.

“Kami jelaskan bahwa kuliah tidak selalu bayar. Bahkan ada program kuliah gratis dan mahasiswa digaji Rp800 ribu per bulan. Tapi minat tetap belum seperti yang diharapkan,” paparnya.

UNWIR mengakui jumlah mahasiswa baru mengalami penurunan signifikan. Jika sebelumnya mampu menarik 700 lebih pendaftar, tahun ini hanya sedikit di atas 500.

“Biasanya minimal 700. Tahun ini saya hanya dapat 500 lebih sedikit. Ini jelas penurunan,” ujarnya.

Menghadapi tantangan tersebut, UNWIR meminta dukungan Pemkab Indramayu. Mereka turut mendorong program Bupati yang mencanangkan Satu Desa Satu Sarjana.

UNWIR bahkan melakukan pendekatan langsung ke masyarakat melalui camat dan kuwu di berbagai kecamatan.

“Kami keliling kecamatan, camat kumpulkan kuwu-kuwu. Kami jelaskan program PIP agar masyarakat kurang mampu bisa kuliah dengan biaya pemerintah,” katanya.

Fenomena ini menunjukkan perguruan tinggi daerah menghadapi tantangan berat dalam meyakinkan masyarakat bahwa kuliah masih relevan untuk masa depan.

(Red/BS)


Apresiasi Spesial

Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.

5rb
20rb
50rb
×

Scan QRIS Berita Super

Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.

Share.
Pesan Website & Aplikasi
Exit mobile version