INDRAMAYU  – Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengeluarkan pemberitahuan tsunami (tsunami advisory) untuk hampir seluruh pesisir timur Jepang, Selasa (29/7/2025), usai gempa berkekuatan magnitudo 8,7 mengguncang kawasan Kamchatka, Rusia.

Gempa dengan kedalaman 20 kilometer ini memicu gelombang tsunami setinggi 30 sentimeter di Pantai Nemuro, Prefektur Hokkaido, dan berpotensi berdampak di sepanjang Pantai Pasifik Jepang.

Dalam daftar yang dirilis JMA, sedikitnya 25 wilayah menerima pemberitahuan tsunami, termasuk Prefektur Hokkaido, Aomori, Iwate, Miyagi, Fukushima, Ibaraki, Chiba, Tokyo Bay, Shizuoka, Aichi, Mie, Osaka, Hyogo, Wakayama, Tokushima, hingga kepulauan terpencil seperti Izu dan Ogasawara.

Pemerintah Jepang melalui sistem siaga nasional telah mengumumkan peringatan melalui pengeras suara di wilayah terdampak, sekaligus memberikan panduan evakuasi ke tempat aman.

LPK Kaina Indonesia Pastikan 53 Siswa Aman di Hokkaido

Peristiwa ini berdampak langsung pada 53 siswa-siswi binaan LPK Kaina Indonesia yang tengah menjalani program di Mukawa, Prefektur Hokkaido. Teguh Adi Koesoemah Putra, pimpinan LPK Kaina Indonesia, memastikan seluruh siswa dalam kondisi aman.

“Kami tetap memantau perkembangan anak-anak secara intensif melalui komunikasi grup. Semua siswa telah mengikuti prosedur evakuasi yang sudah diatur pemerintah setempat,” ujar Teguh. Rabu, (30/7).

Teguh juga menyampaikan bahwa keberangkatan sembilan calon siswa ke Jepang ditunda untuk sementara waktu demi keselamatan.

“Kami prioritaskan keamanan calon siswa. Pemberangkatan akan dilakukan kembali setelah kondisi benar-benar dinyatakan aman,” tambahnya.

Sistem Keselamatan di Jepang Sudah Tersistematis

Menurut Teguh, para pekerja magang maupun pemegang izin Tokutei Ginou telah mendapatkan edukasi mengenai keselamatan sejak sebelum keberangkatan.

“Setiap wilayah di Jepang sudah memiliki tempat evakuasi yang jelas. Jika terjadi keadaan darurat, pengumuman akan disampaikan melalui pengeras suara dan sistem aplikasi ponsel yang otomatis mengeluarkan alarm peringatan,” terangnya.

Teguh juga menegaskan bahwa selama terjadi bencana alam, aktivitas kerja akan dihentikan sementara tanpa memengaruhi kontrak kerja para pekerja.

“Sistem di Jepang sudah sangat terstruktur. Semua warga, termasuk pekerja asing, akan diarahkan untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu,” ujarnya.

Ia meminta orang tua siswa di Indonesia agar tetap tenang karena penanganan siswa di Jepang dilakukan dengan profesional.

“Anak-anak berada dalam sistem penanganan bencana yang sangat baik. Mereka mendapat pendampingan penuh dari pihak berwenang dan kami memantau kondisi mereka setiap saat,” pungkas Teguh.

Melalui kejadian ini, LPK Kaina Indonesia berharap siswa dan calon peserta program dapat memahami pentingnya kesiapan menghadapi bencana serta mengenal sistem keselamatan di Jepang yang dikenal cepat dan terstruktur. **(Az)


Apresiasi Spesial

Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.

5rb
20rb
50rb
×

Scan QRIS Berita Super

Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.

Share.
Pesan Website & Aplikasi
Exit mobile version