INDRAMAYU – Ketua Umum Yayasan Wiralodra, Dr. H. Dudung Indra Ariska, SH, menegaskan pentingnya filsafat sebagai fondasi berpikir bagi mahasiswa di tengah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), revolusi digital, dan perubahan sosial yang berlangsung semakin cepat.
Pesan tersebut disampaikan dalam pidato pembukaan Seminar Pascasarjana Universitas Wiralodra yang digelar pada Selasa (30/6/2026) dengan tema “Perjalanan Filsafat Dari Athena Sampai Nusantara”. Seminar menghadirkan narasumber Prof. Dr. Phil. H. Al Makin, S.Ag, M.A, Guru Besar Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Dalam sambutannya, H. Dudung menekankan bahwa pendidikan tinggi saat ini tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan teknis, tetapi juga harus mampu membentuk generasi yang kritis, rasional, reflektif, dan bijaksana.
“Bangsa ini membutuhkan generasi yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu memahami dan menilai berbagai persoalan secara mendalam dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Menurutnya, filsafat memiliki peran strategis karena mengajarkan manusia untuk berpikir secara sistematis serta tidak menerima informasi secara mentah tanpa proses pengujian dan refleksi.
Ia mengutip pemikiran filsuf Yunani Socrates yang menyatakan bahwa kehidupan yang tidak direfleksikan secara kritis akan kehilangan makna.
H. Dudung menjelaskan, terdapat sedikitnya tiga manfaat utama mempelajari filsafat bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa pascasarjana.
Pertama, filsafat membentuk kemampuan berpikir kritis dan logis yang menjadi syarat penting dalam menghasilkan penelitian ilmiah berkualitas.
Kedua, filsafat memperkuat fondasi keilmuan melalui pemahaman terhadap aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi sebagai dasar penelitian ilmiah.
Ketiga, filsafat berperan dalam membentuk karakter serta integritas moral agar ilmu pengetahuan tidak kehilangan orientasi kemanusiaannya.
“Ilmu yang besar tanpa integritas hanya akan melahirkan kerusakan yang lebih besar,” tegasnya.
Lebih lanjut, H. Dudung juga menyoroti tantangan era digital yang ditandai banjir informasi, polarisasi sosial, disinformasi, hingga berkembangnya teknologi kecerdasan buatan yang mampu menghasilkan pengetahuan secara instan.
Dalam kondisi tersebut, ia menilai filsafat menjadi semakin relevan karena mampu melatih kemampuan berpikir jernih, memilah informasi, serta menilai kebenaran secara rasional.
Selain aspek akademik, filsafat juga dinilai memiliki kontribusi besar dalam membentuk kepemimpinan. Seorang pemimpin, menurutnya, tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Ia mengutip pandangan Aristoteles bahwa tujuan tertinggi pendidikan bukan hanya menghasilkan manusia berpengetahuan, tetapi juga manusia yang memiliki kebajikan.
Menutup pidatonya, H. Dudung mengajak seluruh mahasiswa pascasarjana Universitas Wiralodra untuk menjadikan filsafat bukan sekadar mata kuliah, melainkan sebagai cara berpikir dan cara mencari kebenaran dalam kehidupan akademik maupun sosial.
Ia berharap seminar tersebut menjadi ruang dialog intelektual yang mampu memperkuat tradisi akademik dan melahirkan insan yang unggul, berintegritas, kritis, serta bijaksana.
“Ilmu pengetahuan memberikan kekuatan untuk bertindak, tetapi filsafat memberikan kebijaksanaan untuk menentukan arah tindakan tersebut,” tutupnya. (*)
Apresiasi Spesial
Dukungan Anda membantu kami menyajikan berita berkualitas.
Scan QRIS Berita Super
Silakan selesaikan pembayaran melalui aplikasi e-wallet Anda.
